PINTU Residency x LAKON Indonesia: Saat Desainer Prancis Mengolah Keindahan Wastra Indonesia
Dalam dunia mode yang bergerak cepat, ada momen langka ketika kreativitas melampaui batas negara dan bahasa. Tahun ini, PINTU Incubator, program binaan JF3 Fashion Festival, menghadirkan babak baru dalam diplomasi budaya melalui Residency Program — sebuah langkah signifikan dari PINTU dalam menjaga keberlanjutan craftsmanship Indonesia di industri mode global. Program ini mengundang desainer internasional untuk berkolaborasi langsung dengan pengrajin lokal, menciptakan koleksi yang mengintegrasikan teknik tradisional dalam pendekatan desain modern.
Selama tiga bulan, dua desainer muda asal Prancis, Kozué Sullerot dan Priscille Berthaud, menjalani residensi di Indonesia, berproses bersama para artisan di Tegal, Jawa Tengah, dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. Mereka tidak sekadar belajar membuat kain, tetapi menyelami filosofi di balik setiap motif dan serat benang yang ditenun dengan hati. Hasilnya adalah koleksi yang melampaui estetika; perpaduan antara tradisi, modernitas, dan kepekaan global yang menggugah.
Residency Program merupakan subprogram baru dari PINTU Incubator, sebuah inisiatif bilateral antara JF3 Fashion Festival, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis melalui Institut Français d’Indonésie (IFI).
Sejak berdiri pada 2022, PINTU telah menjadi platform penting dalam ekosistem mode Indonesia, membina lebih dari 64 brand dan melibatkan 129 mentor, termasuk 44 ahli mode asal Prancis dari berbagai sekolah dan rumah mode ternama. Tahun 2025 menjadi tonggak baru: JF3 tidak hanya mengirimkan desainer Indonesia ke Paris, tetapi juga mengundang desainer dunia untuk belajar dari kekayaan craftsmanship Nusantara.
Melalui Residency, PINTU menegaskan misinya: menghidupkan kembali warisan budaya Indonesia melalui kolaborasi berkelanjutan. Para desainer internasional diajak berinteraksi langsung dengan pengrajin lokal, menciptakan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, keberlanjutan, dan empati.
LAKON Indonesia: Menjaga Tradisi, Mengolah Masa Depan
Sebagai co-initiator program, LAKON Indonesia menjadi rumah bagi para desainer Prancis dalam proses penciptaan. Didirikan oleh Thresia Mareta, LAKON dikenal karena pendekatannya yang menggabungkan desain modern, filosofi keberlanjutan, dan budaya lokal.
Dengan semangat “Drawing the wisdom of the past into the future,” LAKON tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga mengajarkan bagaimana tradisi bisa hidup di masa depan, menjembatani generasi dan nilai-nilai global dalam satu narasi desain yang relevan.
Kozué Sullerot: Eksperimen Warna dan Energi dari Tegal
Lulusan ÉNAMOMA (École Nationale de Mode et Matière – PSL Paris) ini menghabiskan masa residensinya di Tegal, Jawa Tengah. Di sana, Kozué berkolaborasi dengan para pembatik untuk mengeksplorasi pewarna alami, motif dua sisi (reversible), dan pola kontemporer yang lahir dari keingintahuan akan alam dan kehidupan lokal.
Koleksinya terdiri dari enam look bergaya resort wear, menghadirkan harmoni antara kain katun, linen, dan pewarna nabati dalam nuansa cerah. Setiap potongan menggambarkan perjalanan batin antara sensibilitas Jepang, presisi Prancis, dan kehangatan budaya Indonesia.
“Saya banyak belajar dari pengalaman ini, baik secara profesional maupun personal. Dukungan dari tim PINTU dan para pengrajin luar biasa, dan saya merasa perjalanan ini akan terus memengaruhi karya-karya saya ke depan. Ini bukan akhir, tapi awal dari sesuatu yang baru,” ujar Kozué.
Priscille Berthaud: Ritme Tenun dan Arsitektur dari Lombok
Berbeda dengan Kozué, Priscille Berthaud, lulusan École Duperré Paris, memilih Lombok sebagai tempat residensinya. Ia bekerja bersama para perempuan penenun yang telah menjaga tradisi tenun dan songket selama generasi.
Terinspirasi oleh ritme meditatif mereka dan garis arsitektural Teras LAKON, Priscille menciptakan enam tampilan ready-to-wear yang ringan, struktural, dan bernapas. Koleksi ini menampilkan permainan tekstur, transparansi, dan siluet, menegaskan bahwa wastra Indonesia bisa tampil relevan di panggung mode dunia tanpa kehilangan maknanya.
“Merupakan kehormatan besar bisa bekerja dengan para pengrajin yang memegang sejarah dalam setiap helai benang tenunan mereka. Saya belajar banyak secara budaya, profesional, dan pribadi. PINTU benar-benar menjadi pintu yang membuka cara pandang baru terhadap mode dan kemanusiaan,” ungkap Priscille.
Dari Lombok dan Tegal ke Paris: Diplomasi Mode Indonesia
Kedua koleksi hasil Residency Program ini tampil memukau di Première Classe Paris Trade Show 2025, salah satu ajang trade show paling bergengsi di Eropa. Para buyer dan pengamat internasional menilai karya Kozué dan Priscille sebagai bentuk baru diplomasi budaya, di mana wastra Indonesia menjadi simbol keanggunan modern.
Rencananya, koleksi kolaborasi ini akan diproduksi dan dijual secara eksklusif di LAKON Store pada awal 2026, agar masyarakat Indonesia dapat menikmati langsung hasil kolaborasi lintas budaya ini.
Melalui PINTU Residency x LAKON Indonesia, JF3 menegaskan posisinya bukan sekadar festival mode, tetapi ekosistem fashion Indonesia yang hidup dan berdampak global.
Dari Lombok hingga Paris, dari benang tradisional hingga runway internasional, cerita mode Indonesia kini ditulis bersama dunia.
Baca juga: Langkah Nyata JF3 Dukung Brand Indonesia Bersinar di Paris melalui PINTU Incubator 2025