L'Entre-Deux: Kolaborasi FFD, PINTU & École Duperré Paris Guncang BRI JF3 Fashion Festival 2026
Runway BRI JF3 Fashion Festival 2026 kembali membuktikan bahwa runway tersebut bukan sekadar penonton tren mode dunia, melainkan tempat tren itu ikut lahir. Dalam parade bertajuk "L'Entre-Deux: Interwoven Identities," para designer Future Fashion Designer, PINTU, dan École Duperré Paris dipertemukan dalam satu runway yang sama. L'Entre-Deux, dari bahasa Prancis yang berarti "di antara dua," menjadi metafora tepat untuk generasi desainer yang berdiri di antara tradisi dan eksperimen, antara Jakarta dan Paris, antara identitas yang mapan dan yang masih dicari.
Future Fashion Designer: Melawan Arus dari Satu Titik Inspirasi
Foto: FFD mempersembahkan koleksi pada Parade Show L'Entre-Deux di BRI JF3 Fashion Festival 2026
Empat nama dari jalur Future Fashion Designer memilih titik tolak yang sama, yaitu headpiece ikonik karya Rinaldy Yunardi, lalu membawanya ke arah yang benar-benar berlawanan. Arron Bryan, pemenang FFD 2026 asal Jayapura, membalik makna angsa putih yang anggun pada karya Rinaldy menjadi sosok angsa hitam yang berani lewat "OPPOSITE: The Fallen Virtue," dipertegas dengan permainan tweed, jet black fabric, dan tulle. Azzahra Najmanisa dari label Nisa Hamzah menempuh jalan serupa lewat "OPPOSITE," menerjemahkan karakter maskulin dari headpiece itu menjadi kebaya bersiluet mengalir dan kental wastra Indonesia. Tashannie Abigail Loekman dari Tashé Atelier menafsirkan ulang sosok yang sama lewat mitologi Icarus dalam koleksi "ICARUS," di mana teknik hand-appliqué embellishment menciptakan ilusi bulu yang meleleh dan terbakar. Dari sudut yang berbeda, Agatha Lievia tampil dengan "The Cage Within," empat look yang menelusuri sisi-sisi jiwa manusia lewat structured corsetry dan layered transparent overlays, sebuah pengingat bahwa penjara terbesar seringkali bukan ruang fisik, melainkan ketakutan dalam diri sendiri.
PINTU Accelerator: Cerita dalam Setiap Jahitan
Foto: Lil Public mempersembahkan koleksi pada Parade Show L'Entre-Deux di BRI JF3 Fashion Festival 2026
Mewakili jalur PINTU Accelerator, Lil Public membawa Tendo Series, koleksi urban wear yang lahir dari novel Zenitendo karya Reiko Hiroshima. Enam looks menampilkan monster bermata empat yang menjadi ciri khas brand ini, lengkap dengan furry headpiece dan custom 3D art, membuktikan bahwa literasi dan fashion bisa berjalan beriringan di atas runway.
PINTU Incubees: Lima Suara, Lima Perspektif
Foto: Incubees mempersembahkan koleksi pada Parade Show L'Entre-Deux di BRI JF3 Fashion Festival 2026
PINTU Incubees menghadirkan keragaman paling luas di L'Entre-Deux. Aldrie membuka percakapan lewat "Roach Me, Roach Me Not," koleksi menswear yang mempertanyakan standar maskulinitas melalui cetakan beludru terinspirasi kecoa dan aksesori dari limbah plastik daur ulang. Toja menyusul dengan DVARA, enam tampilan tanpa alas kaki yang menenun kerajinan Palawa dari Mamasa dan teknik Kumihimo menjadi sebuah gerbang simbolis antara arsitektur dan tekstil.
Andrean NR dari Yogyakarta membawa "Di Tengah Perjalanan," koleksi genderless yang menafsirkan ulang blangkon lewat denim premium dan siluet busana kerja. Saul Studio merayakan pertumbuhan perempuan lewat "The Next Chapter," sementara Dacia menutup barisan dengan "ORIGO S/S27", koleksi streetwear yang mengangkat identitas Pulau Bangka lewat Kain Cual yang bisa dilepas-pasang, sekaligus menjadi koleksi komersial pertama dari label ini.
École Duperré Paris: Ketika Riwayat Pribadi Jadi Bahasa Desain
Foto: Ecole Duperre Paris mempersembahkan koleksi pada Parade Show L'Entre-Deux di BRI JF3 Fashion Festival 2026
Dari Paris, tiga lulusan École Duperré membuktikan bahwa fashion adalah cara paling jujur untuk bercerita. Maurine Willebien menghadirkan "Beauties," eksplorasi female gaze yang mentransformasi underwear menjadi outerwear lewat draping langsung dan material dead stock. Paul Vidal membawa "Emballez-moi," pertemuan busana abad ke-17 dengan estetika kemasan pelindung yang ia temukan lewat kebiasaannya mengoleksi foto lukisan di museum-museum Eropa. Aurélien Voegelin, lewat label DAURIAC, mempersembahkan "3088", koleksi yang lahir dari empat abad sejarah keluarga petani, dinamai dari nomor ear tag sapi bernama Magali, sebagai bentuk rekonsiliasi personal dengan warisan yang lama ia hindari.