Dari Sisik Ikan hingga Kunci Vintage: Wajah Sustainable Fashion Indonesia di JF3 2026
Bayangkan kain yang bertahun-tahun tersimpan di rumah, kunci vintage yang tak lagi memiliki pintu untuk dibuka, hingga sisik ikan kakap yang biasanya berakhir sebagai limbah. Di BRI JF3 Fashion Festival 2026, material-material tersebut justru menemukan kehidupan baru di runway. Di tangan para desainer, keberlanjutan tidak hadir sebagai satu formula yang seragam, melainkan sebagai cara berpikir: melihat kembali apa yang sudah ada, memahami potensinya, lalu mengolahnya menjadi sesuatu yang relevan.
Semangat ini sejalan dengan tema JF3 2026, “Recrafted: Shaping the Future.” Di tengah percakapan global mengenai sustainable fashion, sejumlah koleksi yang hadir di JF3 memperlihatkan bagaimana keberlanjutan dapat diterjemahkan melalui konteks Indonesia—dari pemanfaatan sisa produksi dan material alam hingga preservasi memori, craftsmanship, dan pengetahuan lokal.
Ketika Material Lama Menemukan Nilai Baru
Foto: Koleksi The Key karya Howard Laurent menggunakan material vintage dan daur ulang di JF3 Fashion Festival 2026
HOWARD LAURENT menawarkan salah satu interpretasi paling refined melalui The Key. Dari 30 looks yang ditampilkan, hingga 50 persen material berasal dari sumber yang telah tersedia: kunci vintage, manik-manik sisa, hingga embellishment buatan tangan dari plastik daur ulang. Material tersebut kemudian masuk ke dalam konstruksi korset, fringe, dan detail berkilau yang menjadi bagian dari bahasa desain Howard. Hasilnya menunjukkan bahwa kemewahan tidak selalu bergantung pada kebaruan material, tetapi pada bagaimana sebuah material diolah dan diberi nilai baru.
Foto: Koleksi LUMEN karya RAEGITAZORO mengolah pakaian dan kain peninggalan keluarga menjadi busana kontemporer
Bagi RAEGITAZORO, keberlanjutan berangkat dari sesuatu yang jauh lebih personal. Melalui LUMEN: From Her Shadow to My Light, pakaian dan kain peninggalan mendiang ibunya diolah kembali menjadi busana yang dapat dikenakan hari ini. Material lama tidak hanya dipertahankan secara fisik, tetapi diterjemahkan menjadi medium untuk membawa memori ke konteks yang baru.
Foto: Koleksi Heirloom Fantasy karya AMOTSYAMSURIMUDA mengolah tekstil lama menjadi menswear kontemporer di JF3 2026
Pendekatan serupa hadir dalam Heirloom Fantasy karya AMOTSYAMSURIMUDA. Berawal dari tumpukan kain lama yang ditemukan di rumah orang tuanya, material penuh sejarah personal tersebut ditransformasikan menjadi menswear kontemporer. Alih-alih membiarkan tekstil lama menjadi artefak yang tersimpan, koleksi ini memberinya fungsi dan narasi baru.
Dari Sisa Produksi Jadi Identitas Desain
Foto: Koleksi Jantung Nadi karya Adrie Basuki menggunakan Kain Marmer dari sisa tekstil di JF3 Fashion Festival 2026
Eksplorasi material juga menjadi bagian penting dari Jantung Nadi karya Adrie Basuki. Ia mengembangkan Kain Marmer dari sisa tekstil yang melalui serangkaian proses hingga menghasilkan tekstur dan warna baru, kemudian memadukannya dengan batik cap tradisional serta material alami seperti jahe dan kayu manis.
Koleksi ini membawa dimensi manusia yang lebih kuat dengan menghadirkan para penyintas kanker payudara, paru-paru, dan limfoma di runway. Keberlanjutan, dalam konteks tersebut, tidak berhenti pada persoalan material, tetapi berkembang menjadi percakapan tentang kehidupan, ketahanan, dan manusia yang mengenakannya.
Foto: Koleksi LOKAKINI karya AGATHANDY memanfaatkan perca lace dan batik sebagai detail busana di JF3 2026
Dalam presentasi Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), AGATHANDY mengambil pendekatan berbeda melalui LOKAKINI. Perca lace dan batik yang biasanya dianggap sebagai sisa produksi justru ditempatkan sebagai elemen dekoratif utama. Keterbatasan material tidak disembunyikan, melainkan menjadi bagian dari identitas visual koleksi.
Ketika Alam Menjadi Bagian dari Eksperimen Material
Foto: Koleksi NIHI Voyage karya YASA memadukan wastra Indonesia dengan material alam di JF3 Fashion Festival 2026
Indonesia memiliki kekayaan material dan craftsmanship yang membuka kemungkinan lain bagi praktik fashion yang lebih sadar. Dalam NIHI Voyage, YASA menerjemahkan lanskap Sumba ke dalam 24 looks menswear dengan memanfaatkan tulang rusuk sapi, capit kepiting, dan cangkang kerang sebagai elemen dekoratif, berdampingan dengan wastra serta kerajinan tangan lokal.
Foto: Koleksi The Life Journey karya The Theme menggunakan sisik ikan kakap sebagai detail aksesori di JF3 2026
Eksperimen yang lebih tidak terduga muncul dalam The Life Journey karya The Theme. Sisik ikan kakap yang diperoleh dari nelayan Bintan diolah menjadi aksesori dan dijahit satu per satu menggunakan teknik payet. Proses tersebut mempertemukan eksplorasi desain dengan keterampilan tangan sekaligus membuka kemungkinan baru bagi material yang sebelumnya berada di luar bahasa konvensional fashion.
Ketika Pertukaran Budaya Mengubah Proses Kreatif
Foto: Koleksi LOUISEGUARD Spring Summer 2027 karya Louise Marcaud, desainer Prancis yang mengeksplorasi batik dan tekstil Indonesia di JF3 2026
Perspektif lain datang dari desainer Prancis Louise Marcaud. Melalui rangkaian PINTU Cultural Visit di Indonesia, ia menjelajahi pasar tekstil Jakarta dan workshop tenun lurik di Yogyakarta sebelum membawa sejumlah batik serta kain sisa produksi kembali ke Paris.
Pengalaman tersebut kemudian masuk langsung ke dalam proses kreatifnya. Sebanyak 13 dari 20 looks dalam koleksi LOUISEGUARD Spring/Summer 2027 menggunakan material yang ditemukan selama perjalanannya di Indonesia. Di sini, keberlanjutan bertemu dengan pertukaran budaya: material lokal tidak sekadar menjadi inspirasi visual, tetapi menjadi bagian nyata dari proses penciptaan koleksi.
Satu Semangat, Banyak Jalan
Foto: Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival, pada BRI JF3 Fashion Festival 2026
Apa yang terlihat di runway JF3 2026 menunjukkan bahwa sustainable fashion Indonesia tidak harus bergerak dalam satu bahasa. Bagi sebagian desainer, keberlanjutan berarti mengolah limbah produksi. Bagi yang lain, ia hadir melalui material alam, craftsmanship lokal, pakaian lama, atau tekstil yang menyimpan sejarah personal.
Chairman JF3 Fashion Festival, Soegianto Nagaria, menempatkan semangat tersebut dalam konteks yang lebih luas: perubahan tidak cukup terjadi pada produk, tetapi juga pada cara industri bekerja.
“Industri fashion terus berubah. Karena itu, kita juga harus berani berubah, meningkatkan kualitas, memperkuat cara bekerja, membangun kolaborasi yang lebih setara, serta menciptakan ekosistem yang memberi ruang bagi lebih banyak talenta untuk tumbuh secara berkelanjutan.”
Melalui “Recrafted: Shaping the Future,” JF3 membawa percakapan tentang keberlanjutan kembali pada esensinya: bukan sekadar tentang mencari material baru yang dianggap lebih ramah lingkungan, tetapi tentang memikirkan kembali nilai dari apa yang sudah kita miliki.
Karena masa depan fashion mungkin tidak selalu dimulai dari sesuatu yang baru. Terkadang, ia justru dimulai ketika kita melihat sesuatu yang lama dengan cara yang berbeda.
Baca juga: RAEGITAZORO Hadirkan “LUMEN: From Her Shadow to My Light” di BRI JF3 Fashion Festival 2026.