Dari Made-to-Order ke Ready-to-Wear: Hartono Gan dan Dampak Nyata Future Fashion Award

Selama lebih dari enam tahun, Hartono Gan membangun reputasinya dari jarak terdekat yang mungkin antara desainer dan pelanggan: made-to-order, satu pakaian dalam satu waktu. Lalu pada 25 April 2026, ia berdiri di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading, dengan 19 looks yang bisa langsung dibeli siapa saja yang hadir. Itu bukan sekadar peluncuran koleksi. Itu perpindahan skala, dari atelier ke pasar, dan salah satu bukti paling konkret dari apa yang dirancang Future Fashion Award untuk dilakukan. 

Ketika JF3 Tidak Sekadar Runway

Foto: Suasana fashion presentation Hartono Gan di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading, 25 April 2026, bagian dari program Future Fashion Award JF3 Fashion Festival

Future Fashion Award (FFA) pertama kali diperkenalkan pada JF3 Fashion Festival 2025 dengan premis yang berbeda dari kebanyakan program penghargaan fashion: bukan piala, melainkan sistem pendukung. Dua komponen utamanya, dukungan finansial bertahap dan pendampingan bisnis intensif bersama LAKON Indonesia,  dirancang untuk menjawab kesenjangan yang kerap membatasi desainer Indonesia berbakat: kuat secara kreatif, tapi minim akses ke infrastruktur industri yang nyata. Dan Hartono Gan adalah penerimanya.

"Ketika kreativitas dipertemukan dengan kesiapan bisnis yang terstruktur, hasilnya dapat melampaui sebuah koleksi. Yang terbentuk adalah fondasi brand yang lebih kuat, lebih relevan, dan lebih siap untuk tumbuh." Ujar Thresia Mareta, Advisor JF3 & Founder LAKON Indonesia

Enam Tahun Membangun Nama, Kini Membuka Akses

Foto: 16 articles koleksi ready-to-wear Hartono Gan Homme, capsule wardrobe dengan siluet androgynous yang bisa langsung dibeli publik

Hartono Gan Homme berdiri pada 2019. Selama bertahun-tahun, brand ini bergerak di jalur made-to-order, setiap pakaian dipotong dan dijahit sesuai proporsi masing-masing pemesan, dengan detail yang sangat personal. Bukan karena keterbatasan, melainkan karena komitmen terhadap workmanship.

Yang selama ini membedakan karyanya bukan hanya teknik tailoring yang tajam, tetapi pendekatannya terhadap gender. Siluet androgynous dengan garis yang bersih dan tegas, pakaian yang tidak bertanya lebih dulu soal siapa yang memakainya. Di saat banyak desainer berbicara soal inklusivitas sebagai positioning, Hartono membangunnya langsung ke dalam konstruksi.

Kini, setelah reputasi itu terbangun, ia mengambil langkah yang lebih besar. Koleksi ready-to-wear perdana ini hadir dengan konsep capsule wardrobe, blazer, jaket, celana tailored, kemeja, pakaian-pakaian inti yang dirancang untuk dipakai, bukan hanya dikagumi. Setiap potongan mempertahankan workmanship yang menjadi ciri khasnya, namun dengan titik harga yang jauh lebih terjangkau dari lini bespoke-nya.

“Saya ingin lebih banyak orang dapat menikmati kualitas yang selama ini menjadi ciri khas Hartono Gan Homme. Ready-to-wear ini bukan kompromi, melainkan pengembangan bahasa desain saya ke konteks yang lebih luas, tanpa kehilangan esensinya," Ujar Hartono Gan

Lebih dari Sekadar Koleksi

Foto: Hartono Gan bersama Thresia Mareta, Advisor JF3 dan Founder LAKON Indonesia, di peluncuran koleksi ready-to-wear Hartono Gan, 25 April 2026

Grand launching ini merupakan bagian dari JF3 2026, lewat tema nya yaitu Recrafted: Shaping The Future, JF3 membangun sistem yang menghubungkan runway dengan retail, kreativitas dengan kapasitas bisnis, serta talenta lokal dengan akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan.

FFA telah membuktikan modelnya bekerja.

Langkah berikutnya adalah Future Fashion Designer (FFD), evolusi dari FFA yang dirancang untuk mendorong desainer Indonesia mengasah potensi terbaiknya dalam konteks industri yang terus bergerak. Bukan hanya memberi penghargaan, tapi membangun generasi yang siap bersaing, di dalam negeri maupun di luar.


Baca juga open call FFD: https://jf3.co.id/articles/ffd-2026-panggung-pembuktian-desainer-muda-indonesia