Belajar dari Paris: Apa yang Dibutuhkan untuk Membangun Ekosistem Fashion Indonesia?
Apa yang membuat Paris menjadi salah satu pusat industri fashion dunia? Bukan hanya nama besar rumah mode atau kreativitas para desainernya, tetapi juga ekosistem yang menghubungkan pendidikan, craftsmanship, inovasi material, hingga akses pasar internasional.
Perspektif inilah yang dibawa pulang Laraswati Ariadne Anwar (Dane) dari Harian Kompas dan Elise Dwi Ratnasari dari CNN Indonesia, dua pemenang PINTU Journalist Writing Competition 2026, setelah mengikuti perjalanan PINTU Incubator ke Paris pada Oktober 2026.
Melalui kunjungan ke Première Classe Paris Trade Show, École Duperré, serta sejumlah institusi budaya, keduanya melihat bagaimana industri fashion bekerja dari berbagai sisi. Mulai dari proses pendidikan dan pengembangan material hingga interaksi antara desainer, buyer, dan jaringan profesional internasional.
Pengalaman tersebut membuka pertanyaan yang relevan bagi Indonesia: bagaimana membangun ekosistem yang tidak hanya menghasilkan karya kreatif, tetapi juga memungkinkan desainer berkembang, menjangkau pasar, dan bersaing secara global?
Memahami Cara Industri Mode Paris Bekerja

Foto: Elise (CNN Indonesia) berbincang dengan peserta PINTU Residency di sela kunjungannya ke Paris Trade Show
Bagi Elise, perjalanan ini menjawab pertanyaan yang telah lama ia pikirkan: apa yang membuat sebuah industri mode dapat bertahan dan terus berkembang? Di Paris, ia melihat bagaimana rumah mode, institusi pendidikan, dan pasar memiliki peran yang saling melengkapi. Kreativitas tidak berdiri sendiri, melainkan didukung oleh sistem yang memungkinkan sebuah gagasan berkembang menjadi produk, bisnis, dan peluang profesional.
“Ternyata kita memang perlu ekosistem untuk membangun sebuah industri, fashion itu tidak bisa berdiri sendiri,” ujar Elise.
Pengamatan tersebut terasa relevan dengan kondisi Indonesia. Banyak desainer memiliki kemampuan kreatif dan karya yang potensial, tetapi pengembangan bisnis, akses pasar, dan jaringan profesional membutuhkan dukungan yang tidak selalu dapat dibangun sendiri.
Di Première Classe, Dane menemukan perspektif lain. Ia mengamati bahwa interaksi antara desainer dan buyer tidak hanya berkaitan dengan transaksi, tetapi juga membuka percakapan mengenai pengembangan produk dan peluang kolaborasi.
“Mereka sudah ngomongin soal kolaborasi, soal bagaimana mengembangkan bahan baru, bagaimana membuka pasar baru,”ungkap Dane.
Bagi Dane, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya ruang pertemuan yang menghubungkan kreativitas dengan kebutuhan industri. Kualitas karya menjadi fondasi, tetapi kesempatan untuk bertemu mitra, memahami pasar, dan membangun jejaring turut menentukan bagaimana sebuah brand dapat berkembang.
Pendidikan Mode: Lebih dari Sekadar Membuat Busana

Foto: Laraswati Ariadne Anwar dari Harian Kompas mengikuti kunjungan dan diskusi mengenai pendidikan fashion di École Duperré Paris.
Aspek lain yang menarik perhatian kedua jurnalis adalah pendekatan pendidikan di École Duperré, salah satu institusi pendidikan seni dan desain di Paris.
Di sana, pembelajaran fashion tidak hanya berfokus pada teknik pembuatan busana. Eksplorasi tekstil, pengembangan material, dampak lingkungan, hingga hubungan mode dengan geopolitik dan geoekonomi juga menjadi bagian dari diskusi.
Bagi Elise, pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat membentuk cara seseorang memandang profesi di industri fashion. “Jadi mindset nya akan berbeda antara Indonesia dan juga Paris,” kata Elise.
Ia membandingkan persepsi terhadap pekerjaan menjahit di Indonesia, yang masih kerap diasosiasikan dengan usaha rumahan atau konveksi, dengan berbagai jalur karier profesional yang diperkenalkan melalui pendidikan mode di Paris, termasuk kesempatan bekerja di rumah mode dan brand mewah.
Sementara itu, Dane memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai hubungan fashion dengan kehidupan sehari-hari. "Mode itu adalah hidup. Mode itu berada di cara kita menjalani hidup, cara kita memilih penampilan," ungkapnya.
Menurut Dane, pilihan fashion tidak pernah sepenuhnya terlepas dari konteks sosial. Harga, identitas, dampak lingkungan, hingga ekspresi politik dapat memengaruhi cara seseorang berpakaian dan memaknai sebuah produk.
Pengalaman di École Duperré menunjukkan bahwa pendidikan fashion tidak cukup hanya menghasilkan individu yang terampil secara teknis. Kemampuan berpikir kritis, memahami material, membaca perubahan masyarakat, dan mempertimbangkan dampak desain juga menjadi bagian penting dari kesiapan profesional.
Bagi Indonesia, pendekatan ini menawarkan perspektif mengenai bagaimana talenta fashion dapat dipersiapkan untuk menghadapi industri yang semakin kompleks.
Ketika Wastra Indonesia Bertemu Perspektif Global
Selain mempelajari sistem industri dan pendidikan, kedua jurnalis juga menyaksikan bagaimana craftsmanship Indonesia diterjemahkan melalui kolaborasi lintas budaya.
Melalui PINTU Residency 2026, desainer Indonesia dan Prancis mengembangkan koleksi bersama pengrajin di Lombok dan Mojokerto, sebelum memperkenalkan hasilnya di JF3 Fashion Festival 2026 dan melanjutkan perjalanan ke Première Classe Paris.
Dane menyoroti bagaimana material tradisional dapat menemukan fungsi baru dalam desain kontemporer, termasuk mantel berbahan tenun serta jaket yang memadukan batik Mojokerto dengan denim. "Wastra kita juga bisa melampaui batas geografis, tidak hanya dari segi estetika, tapi juga dari segi fungsinya," katanya.
Pengamatan ini menawarkan cara pandang yang lebih luas terhadap wastra Indonesia. Batik dan tenun tidak harus dipahami hanya sebagai representasi identitas budaya, tetapi juga sebagai material yang dapat terus dieksplorasi melalui teknik, konstruksi, dan kebutuhan pemakaian yang berbeda.
Dalam konteks tersebut, kolaborasi internasional menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengetahuan lokal dengan pendekatan desain baru, tanpa melepaskan keterampilan para pengrajin yang berada di baliknya.
Pulang dari Paris dengan Satu Pekerjaan Rumah

Foto: Jurnalis Indonesia, peserta PINTU dan mahasiswa École Duperré Paris berbagi sudut pandang tentang dunia mode dalam satu sesi diskusi
Dari seluruh pengalaman di Paris, Elise membawa keyakinan bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, memiliki potensi dan peluang untuk mengembangkan industri fashion yang lebih kuat. Namun, menurutnya, upaya tersebut tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Berbagai elemen industri perlu saling terhubung agar desainer dapat berkembang dan industri fashion Indonesia memiliki pondasi yang lebih berkelanjutan.
Elise memandang PINTU sebagai salah satu jembatan yang dapat membantu menghubungkan elemen-elemen tersebut. Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman lintas negara, desainer tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga membawa pulang perspektif yang dapat diterjemahkan menjadi karya dan pengembangan industri.
“Dari perjalanan ini, sebenarnya Indonesia itu bisa lho. Jakarta itu bisa lho, seperti Paris. Lagi-lagi ya, karena kita bicara ekosistem, tidak bisa kemudian salah satu pihak bergerak sendiri. Misal dari PINTU Incubators bergerak sendiri, nggak bisa. Jadi memang perlu, let's say PINTU Incubators ini sebagai stimulan untuk kemudian jadi penghubung dari dots-dots yang diperlukan dalam suatu ekosistem fesyen. Jadi, semoga PINTU ini menjadi connecting the dots, menjadi stimulan, atau mungkin let's say menjadi detaknya.” Ujar Elise
Perspektif Dane melengkapi pandangan tersebut. Selain memperluas akses pasar, Indonesia juga perlu terus memperkuat kualitas pendidikan, pelatihan, standar pengerjaan, serta cara masyarakat memahami nilai sebuah produk fashion.
Keduanya melihat masa depan fashion Indonesia dari sudut yang berbeda, tetapi menuju arah yang sama. Elise berharap karya desainer Indonesia dapat memperoleh pengakuan global berdasarkan mutu dan daya saingnya, bukan semata-mata karena ajakan mencintai produk dalam negeri. Sementara Dane menekankan pentingnya kualitas dan pengetahuan sebagai fondasi untuk membangun industri yang lebih matang. “Wastra kita juga bisa melampaui batas geografis, tidak hanya dari segi estetika, tapi juga dari segi fungsinya,” ujar Dane.
Perjalanan ini juga memperlihatkan peran lain dari PINTU Incubator dan JF3 Fashion Festival. Tidak hanya membuka akses internasional bagi desainer, tetapi juga memberikan kesempatan bagi jurnalis untuk memahami proses, standar, dan dinamika industri fashion dari dekat.
Karena cerita fashion Indonesia tidak hanya membutuhkan karya yang layak ditampilkan di panggung dunia. Cerita tersebut juga membutuhkan perspektif yang mampu menjelaskan bagaimana karya diciptakan, mengapa kualitasnya penting, dan apa yang masih perlu dibangun agar industri dapat terus berkembang.
Dari Paris, kedua jurnalis membawa pulang sesuatu yang lebih dari cerita perjalanan: cara pandang baru untuk membaca masa depan fashion Indonesia.
Simak langkah JF3 membangun ekosistem fashion global Indonesia dari Paris hingga Asia Timur