Sewindu LAKON Indonesia: Delapan Tahun Merawat Wastra, Membuktikan Daya Tahan Fashion Lokal
Delapan tahun lalu, bertaruh pada wastra Nusantara sebagai fondasi sebuah label ready-to-wear masih terdengar idealis. Hari ini, di tengah rupiah yang melemah dan harga impor yang merangkak naik, taruhan itu justru terlihat seperti strategi. Pada 6 Juni 2026, LAKON Indonesia merayakan sewindu perjalanannya lewat anniversary gathering bersama rekan media di LAKON Store, Summarecon Mall Kelapa Gading, bukan sekadar meniup lilin, melainkan menengok kembali bagaimana sebuah brand lokal tumbuh dengan akar yang sepenuhnya berasal dari dalam negeri.
Berdiri pada 2018 dan konsisten menghadirkan koleksi ready-to-wear berbasis wastra sejak 2020, LAKON dibangun di atas relasi yang jarang dimiliki brand fashion: kedekatan langsung dengan perajin, penenun, dan pembatik di berbagai daerah. Relasi inilah yang menjadi penopang ketika industri diguncang pandemi, dan kembali diuji kini, saat tekanan datang dari arah yang berbeda.
Delapan Koleksi, dan Jejak Panjang di Panggung JF3
Dalam perayaan ini, LAKON menghadirkan instalasi mini dari delapan koleksi yang merangkum perjalanan kreatifnya:
PAKAIANKOE
Dipresentasikan pada 15 November 2020 di ASHTA District 8, SCBD, Jakarta, sebagai koleksi perdana LAKON. Bertema A Journey to Java, koleksi ini menghidupkan kembali warisan tekstil dan kerajinan Jawa melalui pendekatan modern, membawa pakaian etnik ke dalam keseharian generasi kini. Nama “Pakaiankoe” terasa personal, pengingat bahwa pakaian adalah identitas, kenangan, dan cerita tentang siapa kita, sekaligus menjadi langkah awal LAKON membangun ekosistem budaya yang menghubungkan desainer, perajin, dan masyarakat.
GANTARI
Pada 9 Oktober 2021 di Candi Prambanan, Yogyakarta, Lakon Indonesia mempersembahkan koleksi Gantari: The Final Journey to Java dalam rangka Hari Batik Nasional 2021 sebagai penghormatan terhadap wastra Nusantara. Bertema The Final Journey to Java, koleksi ini memadukan batik, jumputan, dan tenun lurik karya perajin Jawa dengan siluet modern sebagai penghormatan terhadap wastra Nusantara. Nama “Gantari” sendiri bermakna cahaya dan semangat, simbol budaya yang terus bergerak dan menemukan bentuk baru. Koleksi ini memadukan batik, jumputan, dan tenun lurik karya perajin Jawa dengan siluet modern, sekaligus merefleksikan perjalanan, ketahanan, dan harapan serta menegaskan bahwa budaya Indonesia terus hidup dan berkembang melalui kolaborasi antara pengrajin, seniman, dan generasi masa kini.
ARADHANA
Koleksi “Aradhana” dari Lakon Indonesia yang ditampilkan pada 11 November 2021 di Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta, mengangkat tema Seen and Unseen tentang proses panjang, kerja di balik layar, dan dedikasi para pengrajin dalam menjaga budaya. Koleksi ini menghadirkan lebih dari 30 busana ready-to-wear berbahan wastra Nusantara seperti batik, tenun ikat, songket, dan ulos dari berbagai daerah, dengan konsep bahwa kain tradisional dapat menjadi bagian dari kehidupan modern. Lebih dari sekadar fashion, “Aradhana” juga memperkuat ekosistem budaya melalui riset, pemberdayaan UMKM, dan pelestarian pengrajin lokal, sekaligus menyatukan keberagaman Indonesia lewat kain dan cerita budaya.
LORONG WAKTU
Koleksi "Lorong Waktu" Dipresentasikan Di JF3 Fashion Festival 2022 Pada 6 September 2022
Koleksi kelima LAKON yang dipresentasikan pada 6 September 2022 di Fashion Tent, La Piazza, Summarecon Mall Kelapa Gading, dalam ajang JF3. Lakon Indonesia mempersembahkan koleksi “Lorong Waktu” sebagai koleksi kelima hasil kolaborasi dengan maestro batik Pekalongan, Cahyo, yang dikenal lewat motif flora dan fauna serta teknik pewarnaan khasnya. Koleksi ini mengangkat perjalanan waktu dan warisan budaya Indonesia melalui karya para pengrajin yang diwujudkan dalam setiap kain, warna, dan siluet, sekaligus mencerminkan komitmen Lakon Indonesia dalam mendukung keberlanjutan budaya serta memperkenalkan karya lokal Indonesia ke tingkat internasional.
RIK 062324 L
Koleksi "RIK 062324 L" Dipresentasikan Di JF3 Fashion Festival 2023 pada 26 Juli 2023
Menutup JF3 Fashion Festival 2023 pada 26 Juli 2023 bersama desainer Irsan, koleksi "RIK 062324 L" . Berbeda dari koleksi sebelumnya yang berfokus pada batik, kali ini LAKON menjadikan tenun lurik sebagai pusat cerita (lurik berarti garis atau pagar, simbol perlindungan dalam filosofi Jawa). Koleksi ini menghadirkan lebih dari seratus tampilan ready-to-wear dengan siluet urban dan warna-warna berani, membuktikan bahwa kain tradisional dapat hadir relevan bagi generasi masa kini tanpa kehilangan nilai budayanya.
THE TAILOR MADE 01
Koleksi "The Tailor Made 01" Diluncurkan pada 29 November 2023 di Teras Lakon, Summarecon Serpong
Diluncurkan pada 29 November 2023 sebagai first privé collection karya Irsan dengan konsep made to order. Merayakan seni jahit tangan dan craftsmanship yang dikerjakan nyaris sepenuhnya secara manual, koleksi ini sekaligus menandai peresmian Teras Lakon di Summarecon Serpong. Koleksi "The Tailor Made 01" dari Lakon Indonesia menjadi sebuah langkah baru yang memperlihatkan sisi paling personal dan eksklusif dari perjalanan Lakon Indonesia. Mengusung konsep made to order, koleksi ini hadir sebagai penghormatan terhadap seni menjahit klasik, sebuah keterampilan yang dulu sangat dihargai, namun perlahan mulai terlupakan di tengah industri fashion modern.
PASAR MALAM
Koleksi "Pasar Malam" Dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2024 pada 30 Juli 2024
Dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2024 pada 30 Juli 2024, koleksi "Pasar Malam" dari Lakon Indonesia menghadirkan interpretasi baru streetwear kontemporer yang terinspirasi dari kehidupan urban. Berkolaborasi dengan maestro batik Pekalongan, Dudung Alisyahbana, koleksi ini memadukan motif batik yang modern dan dinamis dengan potongan kasual, layering, dan siluet yang mengutamakan kenyamanan tanpa meninggalkan nilai artistik. Lebih dari sekadar koleksi busana, "Pasar Malam" merefleksikan suasana keramaian, warna, dan nostalgia yang akrab bagi masyarakat Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa budaya tradisional dapat terus relevan dan dekat dengan generasi masa kini.
URUB
Koleksi "Urub" Dipresentasikan Di JF3 Fashion Festival 2025 Pada 30 Juli 2025
Koleksi "Urub" dari Lakon Indonesia terinspirasi dari filosofi Jawa "Urip iku urub" artinya hidup itu menyala dan memberi terang, sebagai refleksi tentang kehidupan, pengorbanan, dan cahaya yang diberikan manusia kepada sesamanya. Dipresentasikan di JF3 Fashion Festival 2025 pada 30 Juli 2025, koleksi ini memadukan tekstil tradisional seperti batik dan tenun dengan pendekatan kontemporer melalui warna-warna hangat, potongan longgar, dan eksplorasi material yang merepresentasikan semangat empati dan dedikasi para pengrajin Nusantara. "Urub" bukan sekadar koleksi fashion, melainkan sebuah pernyataan bahwa keindahan sejati lahir dari tindakan memberi, dan bahwa budaya dapat terus hidup sebagai cahaya yang menerangi banyak orang.
Membaca Krisis sebagai Peluang
Yang membuat momentum sewindu ini relevan secara lebih luas adalah cara LAKON membaca situasi ekonomi. "Setiap perubahan kondisi ekonomi memberi dampak bagi semua industri, termasuk fashion," ujar Thresia Mareta, Founder LAKON Indonesia. Namun baginya, pelemahan nilai tukar membuka ruang: ketika harga produk impor naik, brand lokal berpeluang mengisi pasar yang selama ini didominasi produk luar.
Syaratnya satu, kualitas, desain, dan pengalaman produk harus setara, bukan sekadar lebih murah. Thresia menolak narasi nasionalisme produk yang dangkal; menurutnya konsumen tidak seharusnya membeli produk lokal hanya karena impor menjadi mahal, melainkan karena nilai dan identitasnya. "Daya saing industri fashion Indonesia tidak akan dibangun dari kemampuan meniru produk luar, melainkan dari kemampuan mengembangkan keunikan yang tidak dimiliki negara lain," tegasnya. Di titik inilah, kedekatan LAKON dengan ekosistem perajin dalam negeri berubah dari nilai budaya menjadi keunggulan kompetitif yang nyata.
Koleksi Anniversary: Tidak Ada yang Terbuang
Semangat itu mengejawantah dalam koleksi anniversary yang menjadi puncak perayaan. Dirakit dari sisa-sisa kain yang dikumpulkan sepanjang delapan tahun, setiap piece diolah kembali menjadi busana yang mudah dipadupadankan, terbatas, dan mustahil direplikasi dengan cara yang persis sama. Pendekatan upcycle ini diperkuat lewat layanan "UP-CYCLE by LAKON Indonesia" Repair Service serta Interactive Scrapbook, ruang bagi pengunjung untuk turut menuliskan bagian dari cerita LAKON.
"Tidak terasa sudah delapan tahun. Banyak yang berubah, tetapi beberapa hal tetap sama, LAKON masih dipenuhi cerita, diskusi, dan tangan-tangan yang terus bekerja," ujar Thresia. Bagi LAKON, sewindu bukan garis akhir, melainkan jeda untuk menarik napas sebelum babak berikutnya, pengingat bahwa merawat budaya dan membangun bisnis yang tangguh, pada akhirnya, bisa menjadi satu gerakan yang sama.
Baca juga show LAKON Indonesia pada JF3 Fashion Festival 2025 https://jf3.co.id/articles/tradisi-dan-futurisme-bertemu-di-panggung-jf3-fashion-festival-2025-lakon-indonesia-featuring-victor-clavelly-x-heloise-bouchot