Be Spoke di Panggung JF3 2025 Lewat Koleksi Embodiment Malfunction

Di tengah kemegahan JF3 Fashion Festival 2025, satu pertunjukan runway tampil begitu berbeda, menggugah, bahkan sedikit mengganggu nalar visual—dan itu justru menjadi poin terkuatnya. Be Spoke, label yang dikenal karena pendekatan eksperimentalnya, menghadirkan parade koleksi bertajuk “EMBODIMENT MALFUNCTION”, sebuah eksplorasi mode yang berani menantang pakem umum dalam berpakaian.


Dengan total 48 looks yang diperagakan oleh 24 model pria dan wanita, Be Spoke menampilkan dua sekuens utama: Seq. 01 – Dekonstruksi dan Seq. 02 – Sculpture. Keduanya menjadi respons artistik atas era post-human—di mana pakaian bukan sekadar busana, melainkan perpanjangan dari kegelisahan visual dan identitas yang retak.

Melalui siluet yang terdistorsi, permainan material seolah “glitching”, dan aksen-aksen nyeleneh yang membaur dengan struktur konvensional, koleksi ini memperlihatkan bahwa ketidaksempurnaan dapat menjadi bahasa baru dalam dunia fashion. Warna-warna yang tabrakan dan pola yang tidak biasa justru menjadi simbol dari benturan kelas sosial dan gaya hidup yang eksentrik. Be Spoke menampilkan kemungkinan baru: bahwa error dan malfunction bisa jadi bentuk ekspresi yang sah, bahkan indah.

A22I9408.jpg

Alih-alih mengikuti arus budaya populer yang cenderung datar dan seragam, Be Spoke memilih untuk menggali hal-hal yang “unusual”—yang diabaikan atau dianggap cacat secara estetika. Hasilnya adalah sebuah runway yang terasa seperti narasi visual dari pencarian identitas dalam sistem yang rusak.

“EMBODIMENT MALFUNCTION” bukan sekadar koleksi busana, melainkan sebuah ajakan untuk melihat fashion dari perspektif yang lebih bebas, lebih jujur, dan lebih reflektif. Bahwa pakaian bisa menjadi medium untuk mempertanyakan realitas, mengganggu kenyamanan visual, dan pada akhirnya membuka ruang dialog tentang siapa kita dalam lanskap budaya yang terus berubah.