JF3 Umumkan Tiga Pemenang PINTU Journalist Writing Competition 2026
Di balik sebuah koleksi fashion, selalu ada cerita yang lebih panjang dari beberapa menit presentasi di runway. Ada proses kreatif, craftsmanship, keputusan bisnis, hingga orang-orang yang membangun industri di belakangnya. Bagi JF3, perkembangan fashion Indonesia tidak hanya membutuhkan mereka yang menciptakan karya, tetapi juga jurnalis yang mampu merekam, menginterpretasikan, dan membawa cerita tersebut kepada publik.
Semangat inilah yang kembali diangkat melalui PINTU Journalist Writing Competition 2026. Tahun ini, JF3 mengumumkan tiga pemenang: Laraswati Ariadne Anwar dari Harian Kompas, Sylviana Hamdani dari The Jakarta Post, dan Elise Dwi Ratnasari dari CNN Indonesia. Kompetisi ini menjadi bagian dari perjalanan PINTU Incubator, program pengembangan fashion Indonesia–Prancis yang diinisiasi oleh JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonésie (IFI) sejak 2022.
Lebih dari sekadar kompetisi menulis, program ini membawa satu pertanyaan yang relevan bagi perkembangan industri: bagaimana fashion Indonesia didokumentasikan, dipahami, dan dibawa kepada audiens yang lebih luas?
Ketika Fashion Tidak Berhenti di Runway
Selama lebih dari dua dekade, JF3 berkembang menjadi ekosistem yang mempertemukan desainer, brand, talenta, retail, pelaku industri, media, dan publik. Dalam ekosistem tersebut, media memiliki peran penting dalam memperpanjang kehidupan sebuah karya setelah lampu runway padam.
Sebuah fashion show mungkin berlangsung hanya beberapa menit. Namun, tulisan jurnalistik dapat membawa pembaca lebih jauh: memahami gagasan di balik sebuah koleksi, mengenal orang-orang yang mengerjakannya, melihat tantangan industri, hingga mengikuti pertukaran pengetahuan ketika desainer Indonesia memasuki percakapan global.
Karena itu, jurnalisme fashion bukan hanya tentang merekam tren. Ia juga menjadi bagian dari dokumentasi perkembangan industri fashion Indonesia dari waktu ke waktu. Perspektif ini sejalan dengan semangat JF3 2026, “Recrafted: Shaping the Future,” yang melihat masa depan fashion sebagai hasil dari ekosistem yang terus dibangun bersama.
Tiga Jurnalis, Tiga Perspektif tentang Fashion Indonesia
Ketiga pemenang tahun ini membawa pendekatan jurnalistik yang berbeda dalam membaca perkembangan industri.
Laraswati Ariadne Anwar - Harian Kompas
Melalui tulisan “Memahami Keunggulan Prancis”, Dane melihat pengalaman Indonesia–Prancis dari perspektif yang kritis terhadap standar dan ekosistem fashion yang telah lama dibangun Prancis.
Baca tulisan Laraswati Ariadne Anwar di Harian Kompas:
https://www.kompas.id/artikel/draft-dne-pintu-maaf-ya-perancis-masih-unggul
Sylviana Hamdani - The Jakarta Post
Dalam “Pintu’ Opens a New Runway Between France and Indonesia”, Sylviana mengangkat PINTU sebagai jembatan yang mempertemukan ekosistem fashion Indonesia dan Prancis.
Baca tulisan Sylviana Hamdani di The Jakarta Post:
Elise Dwi Ratnasari - CNN Indonesia
Elise melalui “Unjuk Karya 5 Brand-Desainer Usai 'Inkubasi' Bersama Pintu Incubator” menyoroti perjalanan lima brand dan desainer setelah melalui proses pengembangan bersama PINTU Incubator.
Baca tulisan Elise Dwi Ratnasari di CNN Indonesia:
Ketiga tulisan tersebut memperlihatkan bahwa satu ekosistem fashion dapat dibaca melalui banyak perspektif—mulai dari standar industri dan hubungan lintas negara hingga proses pengembangan talenta dan brand.
Dari Meliput Indonesia hingga Menyaksikan Paris
Sebagai bagian dari penghargaan tahun ini, Laraswati Ariadne Anwar dan Elise Dwi Ratnasari akan melanjutkan perjalanan jurnalistik mereka ke Paris pada 3–10 Oktober 2026. Keduanya akan mengikuti dan meliput rangkaian kegiatan PINTU Incubator dan melihat secara langsung bagaimana perjalanan fashion Indonesia berlanjut dalam konteks industri internasional.
Perjalanan tersebut bertepatan dengan kehadiran PINTU Residency 2026 di Première Classe Paris, yang membawa dua koleksi hasil kerja bersama desainer Indonesia dan Prancis dengan komunitas artisan di Mojokerto dan Lombok. AU LARGE, karya Gabriel Marcella dan Lisa Rayar, mengeksplorasi batik Mojokerto; sementara GARUDA, karya Beatrice Angelica dan Mickaël Nana, dikembangkan melalui tenun dan songket Lombok. Kedua koleksi akan bertemu dengan buyer, profesional, dan jejaring industri fashion internasional di Paris.
Bagi kedua jurnalis, Paris membuka kesempatan untuk melihat perjalanan tersebut dari jarak yang lebih dekat—bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga orang-orang, proses kreatif, craftsmanship, pertukaran pengetahuan, dan dinamika pasar yang mengiringinya.
Membawa Cerita Fashion Indonesia Lebih Jauh
Pada akhirnya, membangun industri fashion tidak hanya membutuhkan desainer yang kuat, artisan yang terampil, atau akses menuju pasar global. Industri juga membutuhkan cerita yang kritis, relevan, dan terdokumentasi dengan baik agar perkembangan yang terjadi hari ini dapat dipahami oleh publik dan menjadi referensi bagi generasi berikutnya.
Melalui PINTU Journalist Writing Competition, JF3 dan PINTU Incubator membuka ruang bagi jurnalis untuk melihat fashion dari perspektif yang lebih luas, sebagai industri, budaya, bisnis, sekaligus bagian dari pertukaran Indonesia dengan dunia.
Karena ketika karya Indonesia bergerak semakin jauh, cerita tentang perjalanan di baliknya juga perlu ikut bergerak.
Baca juga: Pemenang PINTU Incubator Journalist Writing Competition 2025
https://www.pintuincubator.co.id/news/the-winner-of-pintu-incubator-journalist-writing-competition