Ketika Busan Bertemu Jakarta: Evolusi Baru Ekosistem Fashion Indonesia

Ada sesuatu yang magis ketika dua budaya besar bertemu di atas panggung mode. Di Busan Fashion Week 2025, semangat itu hadir melalui langkah berani JF3 Fashion Festival (JF3), yang kini tak lagi sekadar festival, tapi sebuah gerakan ekosistem fashion Indonesia menuju panggung Asia Timur.

Di bawah cahaya panggung Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO), karya desainer Indonesia melangkah berdampingan dengan gelombang K-Fashion yang mendominasi tren dunia. Bagi JF3, ini bukan hanya soal tampil di luar negeri, tapi tentang memperkenalkan wajah baru Indonesia, sebagai creative powerhouse Asia yang siap berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi.

Diplomasi Budaya di Panggung Dunia

Kolaborasi JF3 dengan Korea Selatan bukanlah pertemuan yang kebetulan. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama (MoU) antara JF3 Fashion Festival, Busan Textile & Fashion Industries Association (BTFA), dan Pemerintah Kota Busan, yang akan berlangsung selama tiga tahun.

Penandatanganan pertama dilakukan di Jakarta pada 26 Juli 2025 di tengah penyelenggaraan JF3 Fashion Festival di Summarecon Mall Kelapa Gading — diwakili oleh Soegianto Nagaria (Chairman JF3), Ms. Song Hyun Rae (BTFA), dan Mr. Park Dong Seok (Busan Metropolitan City).

Langkah historis ini kemudian diteguhkan kembali di Korea pada 29 Oktober 2025, ditandatangani oleh Mr. Park Heong-Joon (Walikota Busan), Soegianto Nagaria, dan Mr. Song Hyun Rae. Penandatanganan ini menandai babak baru diplomasi budaya, ketika dua kota besar, Jakarta dan Busan, saling bertemu dalam semangat kolaborasi.

“Kolaborasi ini bukan hanya antara dua kota, tetapi dua budaya yang saling menginspirasi. Kita membangun jembatan yang menghubungkan kreativitas Indonesia dengan dunia,” ujar Soegianto Nagaria, Chairman JF3.

Tiga Nama, Tiga Narasi, Satu Semangat Indonesia

Dalam kolaborasi ini, JF3 membawa tiga fashion creator Indonesia tampil memukau di Busan Fashion Week pada 30 Oktober 2025, disusul Mini Trunk Show di Lehans, Seoul, pada 31 Oktober 2025 dan HiSeoul Showroom pada awal 1-3 November. 

Di Busan Fashion Week 2025, tiga kreator mode Indonesia tampil memukau, membawa tiga kisah yang berbeda, namun berpadu dalam satu semangat: menyalakan cahaya Indonesia. Mereka tak sekadar menampilkan karya, tetapi membawa membawa identitas dan filosofi Indonesia ke panggung global.


LAKON Indonesia, didirikan oleh Thresia Mareta, LAKON Indonesia menampilkan koleksi bertajuk “ALTRUIS/URUB”. Terinspirasi dari filosofi Jawa urip iku urub — hidup adalah memberi cahaya. Dengan 20 koleksi menghadirkan kembali wastra Nusantara Indonesia dalam siluet modern dan berkelanjutan, serta 10 koleksi eksklusif di Mini Trunk Show, Lehans, Seoul, menampilkan harmoni antara warisan budaya dan modernitas global. 


Hartono Gan, dengan tema “Tailored for You”, sebuah studi tentang kontras di mana kelembutan feminin berpadu dengan struktur maskulin. Dengan 16 koleksinya, Ia memadukan keanggunan couture dengan sentuhan arstektural yang menjadi ciri khasnya. Dalam Mini Trunk Show, menampilkan 5 koleksi eksklusif yang memperlihatkan keanggunan dan presisi desain khasnya. 


Ernesto Abram, dengan tema  “Rebirth Resurgence” menghadirkan 20 koleksi, menggambarkan kelahiran kembali identitas manusia di era digital, melambangkan kekuatan, ketahanan, dan keberanian untuk menerima perubahan serta menampilkan 5 koleksi eksklusif dalam Mini Show Lehans, menggabungkan batas antara organik dan mekanis, serta mendefinisikan ulang bahasa couture kontemporer.

Beyond Runway: Membangun Jembatan Ekosistem Asia

Partisipasi JF3 di Busan Fashion Week 2025 bukan sekadar menghadirkan pertunjukan busana, tetapi membangun jembatan ekosistem industri yang lebih luas. Melalui exhibition dan Press Day di HiSeoul Showroom, para desainer Indonesia bertemu langsung dengan pelaku industri mode Korea, buyer internasional, hingga komunitas kreatif Asia Timur.

Kolaborasi ini membuka peluang baru, pertukaran ide, pengembangan produk bersama, serta sinergi lintas negara untuk memperkuat posisi Asia sebagai pusat inovasi fashion dunia.

“Perjalanan kami di Korea bukan sekadar memperkenalkan Indonesia ke pasar global, tetapi tentang membangun koneksi baru. Di saat banyak pihak melihat persaingan, kami justru meyakini kolaborasi sebagai bentuk baru dari kompetisi yang mampu menciptakan dampak nyata dan pertumbuhan berkelanjutan,” ujar Thresia Mareta, pendiri LAKON Indonesia sekaligus advisor JF3.

Langkah JF3 di Korea menjadi bukti bahwa diplomasi budaya dapat tumbuh dari industri kreatif. Bahwa mode dapat menjadi bahasa universal yang menyatukan bangsa, dan bahwa Indonesia kini berdiri sejajar dengan pusat mode dunia, dengan karakter, identitas, dan semangat yang tak tergantikan.


Baca juga: Parade Show K-Fashion Hadirkan Desainer Korea di JF3 Fashion Festival 2025